Minggu, 28 Februari 2010

Misteri Tidur Gus Dur

sumber foto:kaskus.us


Sosok yang misterius. Predikat itu sangat lekat pada Gus Dur, selain banyak predikat lainnya seperti kontroversial, demokratis, dan lain-lain.

Bahkan almarhum Nurcholis Madjid atau Cak Nur setengah bercanda pernah mengatakan, "Hal yang misterius dan hanya Allah yang tahu, selain jodoh, maut, dan rezeki, adalah Gus Dur".

Gus Dur memang kerap membuat manuver politik yang sulit ditebak. Hal itu sering membuat orang salah sangka dan salah langkah menghadapi manuvernya.

Apa yang dilakukan Presiden ke-4 Indonesia itu selama hidupnya memang serba tak terduga dan misterius. Bahkan pemikirannya juga sering melampaui jaman. Pemikiran atau gagasannya baru terbukti kebenarannya kemudian.

Saat dia mengungkapkan gagasan, caci maki muncul, namun dia tetap bersikeras dan tak pernah mudur selangkah pun. Tetapi seiring berjalannya waktu orang baru sadar apa yang dikatakannya adalah benar adanya.

Misalnya ketika dia berurusan dengan DPR. Kala itu Gus Dur sebagai presiden dengan gagah berani menghadiri undangan hak interpelasi DPR.
Mungkin hanya Gus Dur, presiden yang berani menghadapi dewan secara langsung tanpa takut.

Dalam pidato jawabannya di hadapan wakil rakyat, Gus Dur dengan lantang menyebut DPR seperti taman kanak-kanak. Hal itu kontan memancing banyak reaksi. Ada yang marah, ada yang menilai dia gila dan asal berbicara. Intinya kala itu pendapatnya disalahkan, walau mungkin banyak yang membenarkan.

Waktu berjalan, Gus Dur sudah lengser dan DPR berganti. Ternyata DPR baru kemudian menunjukkan tingkah polah mirip taman kanak-kanak dengan nyaris berbaku pukul.

Saat itu hampir semua televisi memutar adegan memalukan itu sembari memutar rekaman saat Gus Dur menyebut DPR taman kanak-kanak. Banyak yang lantas berkata, "Benar juga ya Gus Dur dulu bilang gitu".

Hal misterius lainnya yang dikenal dari Gus Dur adalah misteri tidurnya. Gus Dur selama ini sering terlihat tidur saat menjadi pembicara diskusi atau saat memimpin rapat kabinet di Istana.

Namun anehnya, meski tertidur Gus Dur tahu apa yang dibicarakan orang di sekitarnya selama dia tidur mendengkur. Saat bangun dia akan menjawab semua dan tahu apa yang dibicarakan seolah dia sedang terjaga saat pembicaraan dan pertanyaan itu diajukan, sehingga mengejutkan mereka yang hadir.

Misteri tidur Gus Dur ini sudah banyak disaksikan orang. Sahabat Gus Dur yang juga penulis terkenal Mohammad Sobari pernah menulis kesaksiannya soal hal itu. Sobari mengatakan banyak menteri yang terheran-heran dengan apa yang dilakukan presidennya.

Hal yang sama juga dikemukakan Pakar Komunikasi Politik UI Effendy Ghazali. Effendy mengatakan dalam sebuah diskusi Gus Dur tertidur pulas, saat itu banyak orang yang bertanya pada Gus Dur.

"Saya sampai mencatat lengkap semua pertanyaan mereka," kata Effendy yang takut Gus Dur tidak tahu ada yang tanya.

Namun dugaan Effendy meleset, saat bangun Gus Dur tahu semua pertanyaan dan siapa yang bertanya. Mulai saat itu Effendy percaya tentang cerita misteri tidur Gus Dur.

Bagi yang tidak melihat langsung, maka biasanya tidak percaya dan menilai misteri tidur itu bualan semata. Namun banyak pula yang keheranan melihat hal itu. Bagi santri kampung bahkan menilai hal itu sebagai karomah atau kelebihan khusus Gus Dur semacam indra keenam.

Saya termasuk yang penasaran. Maka dalam sebuah kesempatan bertemu dia, saya menanyakan hal itu. Mengapa saat tertidur dia bisa tahu pembicaraan yang terjadi bahkan tahu pertanyaan yang diajukan pada dirinya.

Namun Gus Dur tak menjawab dan hanya menjawabnya dengan tertawa. Saat saya menanyakan lagi baru dia menjawab dengan santai; "Biasa aja, saya ingat saja topik terakhir sebelum ketiduran, paling nanti pembicaraannya tak jauh dari situ," jawabnya enteng.

Bagi mereka yang tidak percaya hal gaib seputar misteri tidur Gus Dur akan puas dan maklum dengan jawaban itu. Namun bagi mereka yang menyaksikan sendiri misteri tidur Gus Dur tentu tak percaya dengan jawaban itu.

Bagi saya sendiri misteri tidur Gus Dur masih misterius. Kini misteri itu akan semakin menjadi misteri karena sang guru bangsa telah membawanya pergi bersama dirinya

Rabu, 24 Februari 2010

Para Veteran Pun Turun Ke Jalan


Usia mereka tidak muda lagi. Mereka datang dengan berbaju rapi, putih-putih dengan pita merah. Mereka juga mengacung-acungkan tongkat bambu berbalut bendera berlogo besar 77/78. Langkah mereka mantab menuju kawasan Monas bersama ribuan masa lainya.

Kehadiran bapak-bapak itu sangat kontras dengan masa demo 9 Desember yang kebanyakan adalah anak muda itu. Bapak bapak ini adalah para veteran aktivis mahasiswa.

Para mantan aktivis mahasiswa tahun 1977 dan 1978 ini tergabung dalam wadah Grup Diskusi 77/78. Dalam barisan yang relatif sedikit di banding anak muda dari organisasi mahasiswa terlihat para tokoh.

Sebut saja Politisi PAN Sayuti Asyathri dan aktivis GOA Farid Faqih. Mereka beberapa nama veteran 77/78 yang dikenal publik.

Meski fisiknya tak muda lagi, mereka sengaja ikut turun ke jalan bersama para elemen lainnya. “Kita dari 77/78 gak mau kalah dengan dengan yang muda,” kata Sayuti saat ditemui di lokasi aksi 9 Desember.

Dalam aksi di lapangan para veteran ini tak mau kalah dengan yang masih muda. Mereka dengan semangat dan lantang meneriakkan yel-yel anti korupsi. Bendera dengan tulisan 77/78 juga terus dikibar-kibarkan.

Meski berdandanan necis mereka tidak takut dengan terik dan debu yang menyelimuti lokasi. Sayuti mengatakan mengikuti aksi jelas sebagai bentuk keprihatinan pada kondisi bangsa yang digerogoti korupsi.

Selain itu, aksi Hari Anti Korupsi Seduni itu juga menjadi ajang nostalgia dan reuni. “Hehe iya iya ini kayak nostalgia, kita dari 77/78 ya,” ujar Sayuti sambil kembali kebarisan aksi.

Memang terlihat suasana akrab dan seeprti reuni di antara mereka. Saat bertemu ada yang langsung salaman dan berbincang-bincang. Candaan-candaan mengenai aksi mereka di masa lalu juga meluncur diselingi tawa-tawa lebar. Kemudian kembali melanjutkan menyimak orasi dan mengikuti aksi.

Farid Faqih mengatakan aktivis yang sudah tergolong veteran itu masih peduli tentang kondisi bangsa saat ini. Mereka tidak segan-segan ikut turun ke jalan jika keadaan memaksa.

“Kita tak mau kalah dong dengan yang muda-muda,” tukasnya.

Selama mengikuti aksi yang dikoordinasi Gerakan Indonesia Bersih (GIB) mereka tampak tertib. Bendera mereka juga tampak menonjol diantara puluhan bendera elemen lain.

Sesekali mereka juga mengelurkan celetukan-celetukan yang disambut tawa hadirin disekitarnya. Misalnya saat aktivis GIB Effendy Ghazali yang menjadi pembawa acara mengatakan selamat datang pada para generasi muda yang hadir.

Tiba-tiba dari barisan veteran 77/78 ada celetukan protes. “Woi ada yang tua-tua juga nih,” ujarnya yang disambut tawa.

Kamis, 31 Desember 2009

Berkonflik di Politik, Berkawan di Kehidupan


Dalam politik, banyak orang yang beranggapan Gus Dur adalah politikus yang manuvernya kerap mengundang lawan daripada kawan. Berbagai konflik politik yang melibatkannya kerap menimbulkan kesan bahwa Gus Dur adalah orang yang suka mencari lawan dan memecah persahabatan.

Tetapi sejatinya kesan itu hanya kesan permukaan bagi mereka yang tidak mengenal Gus Dur secara mendalam. Karena ternyata Gus Dur adalah sosok yang begitu menghargai persahabatan dan perkawanan.

Berkonflik bagi Gus Dur hanya sebuah pandangan politik, terkait pilihan sikap politik. Dalam kehidupan keseharian hal itu harus ditinggalkan.

Dalam konflik awal PKB Gus Dur berkonflik dengan para kiai langitan yang kemudian mendirikan PKNU. Sepintas terlihat bahwa terjadi perpecahan dan permusuhan antara Gus Dur dan para kiai langitan yang selalu diandalkannya.

Namun sejatinya dalam kehidupan, di luar politik, Peraih Magsasay Award di bidang kepemimpinan soaisal ini tetap menjalin hubungan baik dengan mereka.

Dalam suatu kesempatan di Ponpes Raudatul Ulum, Jember Gus Dur mengemukakan hal itu. Dia menceritakan meski berbeda pandangan politik dengan ulama PKNU dirinya tetap menjaga persaudaraan.

“Waktu mereka mantu (menikahkan anaknya) saya ya datang,” ujarnya. “Kita boleh saja berbeda-beda pendapat, yang tidak boleh itu terpecah-pecah, ini pokok,” tegasnya.

Gus Dur juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah ditanya oleh Ketua PBNU KH Masdar Farid Masudi mengapa tidak melakukan rekonsiliasi dengan para kiai yang berseberangan dengannya. Menjawab itu, Gus Dur mengatakan jika kalau rekonsiliasi itu artinya saling memaafkan sudah dilakukan sejak dulu.

Hal yang sama juga terjadi ketika Gus Dur harus berhadap-hadapan dengan para muridnya seperti Muhaimin Iskandar dan Lukman Edy dalam konflik PKB belakangan. Dalam pemberitaan media yang terlihat hanya perseteruan dan perang pendapat antara dua kubu tersebut.

Tetapi tak banyak orang tahu, Muhaimin dan Gus Dur sering bertemu dan berbincang secara akrab. Perbincangan antara paman dan keponakan.

Beberapa orang dekat Gus Dur menyaksikan hal itu. Bahkan Muhaimin pun kaget ada yang tahu soal itu. “Lho kok tahu,” katanya saat ditanya mengenai pertemuan itu.

Terhadap lawan politik di luar PKB Gus Dur juga berlaku sama. Pertentangan dan konflik dalam politik bukan berarti permusuhan dalam kehidupan.

Lihat saja sikapnya pada SBY. Dalam politik Gus Dur selalu menyerang SBY dan kebijakan-kebijakannya memimpin negara. Namun saat Idul Fitri, Gus Dur selalu hadir di istana menyalami SBY sebelum dia sendiri membuka open house di kediamannya di Ciganjur.

Sikap yang sama juga ditunjukkannya pada Megawati Soekarnoputi. Meski Mega selama ini dinilai “menusuk dari belakang” pada Gus Dur namun pada suatu kesempatan Gus Dur mengatakan dirinya tidak dendam pada Megawati.

Gus Dur beberapa kali juga berjumpa dengan putri Bung Karno yang memanggilnya Mas Dur itu.

Pada sebuah kesempatan dialog di televisi Gus Dur juga mengatakan meski keluarganya dibantai oleh komunis bukan berarti dia harus mendendam pada keturunan komunis.

Sikap yang seperti itu, kata Gus Dur adalah sikap yang demokratis. Menghargai sebuah perbedaan pendapat, termasuk dalam pandangan politik.

Karena sikap demokratisnya itu, Gus Dur dikenal sebagai tokoh demokrasi bukan hanya oleh bangsa Indonesia, namun juga oleh warga dunia.

Suatu hari saya bertanya apa sebenarnya keinginan Gus Dur yang belum terpenuhi. Dengan santai Gus Dur menjawab; “Saya ingin negeri ini lebih demokratis,”.(dian widiyanarko)